Untuk mereka…

Seseorang pekerja yang bisa tertidur saat waktu masih menunjukan pukul 9 pagi, menurut saya ada sesuatu yg tidak beres dengan rutinitasnya. Hal ini saya temui pagi tadi saat saya ke pantry untuk membuat secangkir teh. Maaf, OG di kantor saya tertidur di pantry, bahkan sempat tak sadar saat saya masuk. Yang saya rasakan saat itu cuma satu, saya sedih, terenyuh membayangkan bagaimana bisa ia sampai kurang waktu untuk tidur di rumah.

Hal ini mungkin pernah terjadi dengan pekerja-pekerja services lainnya, di kantor yg lain.  Dengan beban pekerjaan yg saya pikir memang berat, pasti akan sangat cepat membuat lelah. Apalagi mereka mulai bekerja lebih pagi dari para pekerja lain yg mereka “layani”. Dan di kantor saya ini tidak ada lift (yaeyalah cuma 3 lantai), jd naik turun tangga disini memang cukup menyita energi :D. Yang saya fikirkan tadi pagi adalah, mungkin hari kemarin dia mulai lebih awal & pulang lebih akhir, dan maybe she have something to do after office hour, such as family routine activity.

Kemana larinya pertanyaan di kepala saya tadi?? Larinya lebih ke arah, ini pasti ada anak Indonesia lain yg juga berjuang atau bahkan lebih berat dari dia untuk bisa hidup nyaman. Memifikirkan bagaimana dia berjuang untuk keluarganya saja saya bisa meneteskan air mata, bagaimana dengan nasib anak2 Indonesia yg lain. Saya berkeyakinan kalau akar masalahnya ada di PENDIDIKAN. Ketidakmerataan pendidikan, biaya pendidikan yg semakin tinggi, kesejahteraan guru yg masih rendah, dan kesadaran masyarakat kalau sebenarnya Pendidikan lah yg mampu mengangkat mereka dari keterbatasan. Ga heran kalau kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih sangat rendah (berbanding dengan jumlah penduduk).

Kenapa ga sekolah? Duit darimana, buat makan aja susah.

Kenapa yg sekolah pada tawuran? Karena ga ada kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Kenapa ga lanjutin sekolah ke perguruan tinggi? Uang dari mana, adik2 saya makan apa nanti?

Kenapa lulus SD, SMP atau SMA sudah kerja? Ya daripada nganggur, daripada gak makan.

Sedih gak tuh? Hehehehe. Percakapan2 di atas pasti pernah kita dengar ya. Ingin rasanya bisa berbagi dengan mereka, berbagi kebahagiaan. Seandainya saya berkecukupan waktu dan rezeki, saya ingin sekali menjadi orang tua asuh bagi mereka, minimal 1 anak saja. Amin :).

Memang sulit rasanya sekarang berharap bantuan dari pemerintah daerah atau pusat. Saran saya, mulailah dari diri kita masing2 sekarang, mulailah dari sekitar kalian. Mari sama2 menyalakan lilin kepedulian untuk mereka yang kurang beruntung dalam berpendidikan.

“Mari membiasakan berangkat dari hal-hal sepele untuk melengkapi kebesaran di sekitar, dan satu keinginan terbesar untuk memberi manfaat kecil, untuk mereka.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s