Risalah Working Class Hero

…*tarik nafas dalam-dalam, kemudian hembuskan*.

Sebelum menulis, gue coba dengarkan lagu-lagu di album The Sounds of Indonesia by Addie MS. Entah kenapa gue setuju kalau lagu dari tanah Batak Toba yang berjudul “Na Sonang do hita na dua” ini indah sekali. Lagu ciptaan Nahum Situmorang ini irama nya, lirik nya, seperti lagu cinta. Ya cinta terhadap apa pun & siapa pun. Berikut penggalan lirik nya : (diambil dari sini).

Na sonang do hita na dua (Senangnya  kita berdua)

Saleleng ahu rap dohot ho (selama aku bersamamu)

Nang ro dina sari matua (bila tiba masa tua nanti)

Sai tong ingotonku do ho (akan selalu ku ingat dirimu)

Hupeop sude denggani basam (kuingat semua tutur kata manismu)

Huboto do tu ahu do roham (kutahu hanya aku di dalam hatimu)

Nang ro dina sari matua (bila tiba masa tua nanti)

Sai tong ingotonku do ho (akan selalu kuingat dirimu).

Sesuai dengan albumnya yang tentang Indonesia, maka sepertinya lagu ini ditujukan untuk lebih mencintai Indonesia. 🙂

Tahun 2014 baru masuk minggu ke-3, tapi beban negara ini sepertinya sudah berlebihan. Hampir setiap hari selalu ada saja berita negatif, berita menyedihkan, yang ter hempas ke permukaan.

Di awali dengan berita seorang (yang mengaku) financial planner yang membuat transaksi Jual-Beli doa, dengan membayar 100rb maka ia akan membacakan doa titipan kita di Baitullah. Memang benar adanya jika doa lebih mujarab jika di panjatkan disana, tapi rasanya Tuhan Maha mendengar doa setiap umatnya yang di panjatkan dimana saja, kapan saja, as long as semua itu tulus datangnya. Betul?

Titip Doa
Titip Doa

Kemudian ada cerita pemindahan (sebagian) penerbangan komersil dari bandara Seokarno Hatta ke bandara Halim Perdanakusuma. Sebagai orang penerbangan, issue ini menggelikan. Walau tujuan nya baik untuk mengurangi beban di Soetta karena ingin di renovasi, tapi mengapa hal seperti ini tidak diperhitungkan dari dahulu sehingga sekarang harus mengorbankan bandara yang jadi pusat ketahanan udara nasional. Keran persaingan penerbangan swasta sudah dibuka sejak 2004, kenapa butuh waktu sampai 10 tahun untuk berfikir merenovasi bandara? Bukankah ilmu bisnis itu bisa diprediksikan perkembangan nya?. Yang pasti resiko gue ketiban pesawat jatuh saat di kantor makin besar. Hahahaha…

Lalu bencana datang darimana-mana, Gunung Sinabung meletus, Banjir di Manado, dan yang paling berdampak langsung kepada gue adalah banjir di Jabodetabek. Sedih memang hampir tiap tahun selalu saja datang si banjir ini, seolah tidak ada cara penanggulangan nya. Jika menilik dari sejarah, memang sudah dari dahulu kala banjir mampir ke Batavia. Kalau gue ditanya apa masalah utama penyebab banjir di Jakarta, air dari Bogor? Sampah? Bukaaannn, jawaban gue adalah TATA KOTA.

Tata Kota Jakarta sangat amburadul, coba tengok dari udara kalau mau landing di bandara Soekarno Hatta. Rumah berdiri di bantaran kali, tidak jelas mana depan mana belakang, lahan resapan dibangun rumah, ditambah lagi perilaku masyarakat kita yang doyan banget buang sampah sembarangan (baca : ke Sungai). Salah siapa? Salah pemimpin yang membuat peraturan. Apa yang membuat orang melanggar? Karena peraturannya tidak jelas, hukumannya tidak jelas.

Memang terlalu naif rasanya kalau kita hanya menyalahkan pemimpin tanpa mau ikut turun tangan, atau menyalahkan mereka yang tinggal di pinggiran sungai & membuang sampah sembarangan tanpa mau ikut turun tangan, tapi sebesar apapun usaha kita untuk turun tangan kalau tidak di dukung pemimpin yang memang mau kerja nampaknya akan sia-sia. Jadi kedua elemen ini harus mau & mampu bersinergi.

Gue termasuk yang setuju dengan apa yang dilakukan Pemkot DKI untuk merelokasi mereka yg tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, sekitar Waduk Pluit, dll. Toh mereka di relokasi bukan di usir, tapi diberikan kehidupan yang lebih baik, tak akan lagi kebanjiran. Jadi nanti tidak ada lagi kata-kata bahwa banjir disebabkan si miskin, macet disebabkan oleh si kaya, kita bersama-sama disini untuk mencari penghidupan yang layak bagi kita semua, jadi lebih baik bergandeng tangan ketimbang beradu punggung.

Bisa dibayangkan berapa kerugian negara akibat bahan bakar yang menguap sia-sia karena macet ya, walau gue pengguna BBM Non subsidi, tapi alangkah lebih bermanfaat jika subsidi tersebut di alihkan ke pendidikan & kesehatan. Tapi kemarin ketemu (bajingan) pemerintahan yang masih mengkonsumsi Premium, bahkan dia sampe mengganti plat merah mobilnya menjadi hitam hanya untuk isi premium di mobil ber-CC 2000, INSANE!

Selagi di pimpin oleh Gubernur & wakilnya yang JEMPOLAN, DKI Jakarta harus bisa jadi Waterfront City, DKI Jakarta harus punya transportasi massal yg mumpuni sekelas MRT, DKI Jakarta harus punya taman-taman cantik seperti di Bandung (Ngiri.com). Satu doa lain adalah semoga UU Desa segera terealisasikan, sehingga pembangunan lebih merata, sehingga perputaran uang tidak hanya terpusat di Jakarta.

Tulisan ini terbit dari keresahan Working Class Hero yang 2 hari ini harus terebak macet sampe 3 jam, imbas jalan protokol yang amblas diterjang banjir. Hahahahahaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s