Tips Traveling (Spontan) ke Semarang

Awal bulan ini akhirnya benar-benar datang untuk mengeksplor Semarang, setelah bertahun-tahun hanya sekedar melewatinya saat mudik ke kampung halaman. Dengan diberi modal akomodasi gratis dari empunya acara, akhirnya berangkatlah ke Semarang dengan segala itinerary yang sudah dirancang jauh-jauh hari. Akan tetapi, pada pagi hari sebelum keberangkatan, saya dikejutkan akan kegagalan sewa motor yang sudah saya book jauh-jauh hari. Hal ini bikin semua itinerary jadi berantakan, mood drop seketika karena kabarnya sulit untuk mencari rental kalau dadakan.

Rental Motor Kemalingan
Rental Motor Kemalingan

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menulis pengalaman traveling dengan cara berbeda, semoga yang singkat ini bisa lebih padat & bermanfaat buat yang mau pergi ke Semarang.

Tips #1 : Transportasi. Saat ini boleh dibilang Kereta Api adalah yang paling masuk akal untuk dinaiki jika memang kamu punya waktu lebih & menilai ke Semarang naik pesawat adalah pemborosan. Ditunjang dengan pelayanan dari PT. KAI yang semakin prima, membuat perjalananan semakin nyaman. Untuk beli tiket bisa langsung online disini atau disini , dan kita bisa pilih tempat duduk plus bayar via kartu kredit untuk yang gak mau ribet. Semua KA jarak jauh sekarang sudah dilengkapi AC, dan gak ada lagi penumpang berdiri/tanpa tiket, atau pedagang asongan. Dan kemarin saya menumpang KA Ekonomi AC Tawang Jaya seharga 45rb Rupiah saja, saat pulang naik Argo Muria seharga 210rb Rupiah. Oiya, kalau naik kereta Ekonomi dijamin banyak dapat cerita2 ajaib kayak gini. 😀

KA Tawang Jaya
KA Tawang Jaya
Cabin KA Argo Muria
Cabin KA Argo Muria

Tips #2 : Akomodasi. Kali ini saya menginap di Whiz Hotel. Untuk reviewnya sudah pernah saya tuliskan disini, silahkan.

Whiz Hotel Semarang
Whiz Hotel Semarang

Tips #3 : Transportasi dalam kota. Jarak dekat adalah becak, jarak jauh taksi, jarak dekat banget ya jalan aja. Kenapa? Karena Semarang panasssnya ampunn, hehehe. Walau ada angkot, bus Trans Semarang, dan bus kecil semacam Kopaja, saya gak sempet coba salah satunya karena bener2 blank setelah rencana awal keliling2 naik motor buyar. Saat naik becak benar2 harus bisa mengira2 berapa ongkos yang pantas untuk ukuran di Semarang, karena semua (tiga) becak yang saya naiki semuanya bilang terserah saat saya tanya berapa ongkosnya. Tapi kalau ada budget lebih, ya lebihkan saja gak papa, sekalian beramal kan. 🙂

Untuk transportasi jarak sedang-jauh, silahkan gunakan taksi. Blue bird sudah beroperasi disana, jadi buat yg khawatir akan kualitas & keamanan silahkan pakai blue bird. Saya dua kali naik taksi, pertama pakai Blue Bird saat dari hotel resepsi mau main ke Klenteng Sam Poo Kong. Jarak lumayan jauh, dan panas, tapi entah emang standar argonya beda dengan Jakarta atau gimana, tapi totally cuma habis 14rb Rupiah, saya bayar aja pakai 1 lembar uang hijau gak pake kembali. Yang kedua naik taksi lokal (mobil avanza), cocok banget untuk rombongan. Saat itu dari Sam Poo Kong lalu mau ke hotel untuk ambil tas yang dititipkan disana terus lanjut ke stasiun Tawang, tapi karena masih ada waktu 2 jam & si bapak supir (Pak Slamet) yang ramah banget jadi ngobrol sana sini mulai dari politik, keluarga, sampai pengalaman, dan diantar jalan2 ke tempat2 lain seperti Masjid Agung Jawa Tengah & Gereja Blenduk. Total argo saat itu cuma 60rb Rupiah, kasih 2 lembar Rupiah warna biru dan dua buah buku yang sudah saya beli hari sebelumnya dalam rangka gerakan #1Traveler1Book untuk dititipkan kepada Guru TK tetangga rumahnya. Semoga bermanfaat.

#1Traveler1Book
#1Traveler1Book
Travelernya 1, kenapa bukunya 2? :D
Travelernya 1, kenapa bukunya 2? 😀

Nah, untuk jarak yang deket banget sebaiknya jalan kaki saja supaya sehat & Semarang punya trotoar yang lebih baik dari Jakarta untuk pusat kotanya. Saking senengnya jalan, sampai dari hotel ke Simpang Lima saya jalan kaki (PP), hahaha. Seneng karena bisa lewat Lawang Sewu, Tugu Semarang, juga mampir beli oleh2 di Jl.Pandanaran, walau setelahnya langsung balik ke hotel karena gempor. Hahahaha.

Senja di Lawang Sewu
Senja di Lawang Sewu

Tips #4 : Makanan. Kali ini hanya mencicipi beberapa makanan saja karena salah strategi. Pertama saat ke Simpang Lima sore hari, saya cuma makan Nasi Pecel Mbok Sador. Jika kamu datang dari arah Jl.Pandanaran maka tempatnya ada di sebelah gedung Ace Hardware. Sebenernya nasi pecel biasa, cuma lauknya banyak, dan bumbu pecelnya gak pedes2 amat jadi cocok untuk semua kalangan, juga harganya masih termasuk murah. Setelahnya langsung kekenyangan, jadi membuat makanan lain disini gak menarik lagi. Hahaha. Jadi seperti yang di katakan teman saya (Putri), kawasan Simpang Lima ini cocok sekali untuk yang mau kulineran malam di Semarang. Mulai dari Nasi pecel, Gudeg, sampai Sop Kaki Jakarta ada disini, cuma kemarin saya gak nemu es Cong-Lik yang melegenda itu.

Nasi Pecel Mbok Sador
Nasi Pecel Mbok Sador

Tempat lain yang seharusnya dikunjungi malam itu adalah Pasar Semawis di kawasan Pecinan. Karena gak sempat kesini jadi gak bisa kasih gambaran kuliner yang enak disana. Tapi kalau pagi bisa sarapan Loenpia Gang Lombok yang terkenal di Semarang selain Lumpia Mataram. Jadi kalau sarapan di hotel terlalu mainstream, silahkan panggil abang becak dan minta antarkan ke tempat yang buka mulai jam 8 pagi ini. Setelah kenyang bisa main ke Klenteng Tay Kai Sek yang persis ada di sebelahnya, ada kapal Laksamana Ceng Ho juga yang terdampar disini. Mereka menjual dua tipe Loenpia, basah & kering, harganya sama 12ribu Rupiah. Dan kalau mau dibungkus pun bisa, tapi saran saya beli yang basah saja, jadi nanti tinggal digoreng lagi di rumah, tapi harus langsung digoreng ya, karena akan expired dalam 2 hari.

Loenpia Gang Lombok
Loenpia Gang Lombok
Posternya Jadul ya
Posternya Jadul ya

Kalau masih belum kenyang bisa cobain Mie Kopyok Pak Dhuwur yang ada di samping gedung PLN, kalau menginap di Whiz hotel tinggal jalan kaki. Mie ini berisi mie & tauge yang sudah direbus lalu ditambahkan Tahu dan lontong diletakkan di atas piring. Lalu diberi kuah plus bumbu bawang putih yang telah diuleg dan dilarutkan dalam air. Terakhir diberi remasan kerupuk gendar, daun sledri, bawang goreng, dan kecap diatasnya. Enddeeesss. Hehehe,

Mie Kopyok Pak Dhuwur
Mie Kopyok Pak Dhuwur

Tips #5 : Belanja Oleh-Oleh. Jl. Pandanaran udah paling bener kalau mau belanja oleh-oleh makanan khas Semarang. Mulai dari Lumpia, Bandeng Presto, Kue Moaci, Wingko Babat, dll bisa ditemukan di toko-toko sepanjang jalan ini. Untuk tau yang mana yang enak, tinggal liat mana yang ramai, hehehe. Seperti info yang saya baca, toko oleh-oleh Bandeng Juwana (warna di dominasi biru, merah, dan putih) adalah yang paling ramai & terkenal. Kemarin hanya beli bandeng presto original, kue moaci, dan wingko babat, untuk lumpia saya beli dari Gang Lombok. Jangan bingung kalau beli Bandeng Presto yang original karena memang tidak dipajang di etalase, tinggal bilang sama mbak nya, dan untuk 1kg isi bisa isi 5 ikan. Kalau kue moaci sangat rekomended untuk yang selalu merasa gak puas saat makan Kue Moci yang khas Sukabumi. Rasanya, kandungannya, mirip cuma gak dibedakin aja & lebih besar yang Semarang, walau Sukabumi punya Mak Erot. Hahahaha.

Kue Moaci
Kue Moaci

 

Well, sepertinya itu dulu yang bisa di ceritakan kali ini. Jika perlu bantuan lebih lanjut silahkan tinggalkan komen disini ata PM langsung via Twitter (@DewaJakiasta). 🙂

3 Comments Add yours

  1. emma says:

    Info menarik, buat jalan2 spontan ke semarang via tawangjaya 😀

  2. emma says:

    Info menarik buat trip sepontan ke semarang via tawang jaya, terutama rekomen wisata kulinernya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s