Mandiri Dalam Keuangan

Cerita tentang #TourDeSumatra masih mangkrak di draft, gue masih belom mood untuk sharing, maafkan ya. Hahaha.

Kali ini sharing yang ringan-ringan aja ya, yaitu sharing soal gimana mengatur keuangan secara mandiri versi gue. Sebelumnya, cerita ini mungkin agak kurang pas untuk yang masih piara tuyul, atau sering ke Gunung Kawi. Hahahaha. 

Gue nulis udah lewat tengah malam, dan itu gara-gara kopi Luwak Tana Toraja nya Kapal Api, yang ternyata sama kuatnya dengan kopi Arabica Mandailing nya Espresso. Hahahaa.

Sebagai pembukaan, silahkan baca dan cermati tulisan JHT BPJS Ketenagakerjaan ini ya. Sebagai kelas pekerja, gue setuju bahwa dana JHT jangan dihitung sebagai modal investasi, tutup mata aja deh, karena baiknya emang tuh duit disimpan aja sebagai dana pensiun kita. Soal itu dana di sekolahin dulu sama BPJS di pasar saham mah ya biarin aja, karena secara perseroangan jumlahnya agak kurang kalau mau di ambil untuk biaya hidup/investasi. Gue yang tahun ini masuk tahun ke-8 kerja TANPA PUTUS aja, baru bisa cairin 10% nya dua tahun lagi. Dan kayaknya 10% nya pun tidak akan sama dengan gaji gue per bulan di dua tahun kedepan. Hahahahaa. Jadi selama kita masih dalam usia produktif, it’s better to get your 110% at work, go bigger go better go richer. Lagian namanya juga Jaminan Hari Tua, ya makenya ntar aja sik kalau udah tua. Kecuali, muka lo macam Nikita Willy yang matang sebelum waktunya. Hahahaha.

Bulan Ramadhan tahun ini emang rezeki banget buat warga kelas pekerja Jakarta pada umumnya ya. Baru gajian akhir Juni lalu, ehh seminggu kemudian di ganjar THR. Lalu libur lebaran 1 minggu, ehh baru masuk kerja 1 minggu, udah gajian lagi. Jadi dalam sebulan kita 3 kali gajian ya. Tsakkeeepp, Tjiamik, Tan Ek Tjoan! *lah jadi jualan roti*

Tapi, apa kabar cicilan rumah? Cicilan kendaraan? Tagihan kartu kredit? THR ke orang tua dan ponakan-ponakan yang segambreng itu? Oiya, bayar zakat udah belum?. Ingat hukum kekekalan gajian bagian I, “Gajian selalu tidak datang sendirian, selalu ada tagihan yang mengikuti”. Hahahaha.

Mungkin gue sama istri termasuk pasangan yang aneh bagi sebagian orang. Gue sebagai suami belum pernah sekalipun transfer gaji gue ke istri, hahaahaha! Sebagai pasangan yang sama-sama bekerja, kami berdua sudah sama-sama sepakat. Selama kita berdua masih bekerja, masih punya tagihan tetap (rumah & kendaraan), rekening harus saling bergandengan, bantu-membantu untuk menutup pos-pos pengeluaran tersebut. Tidak ada yang namanya uang suami atau uang istri, yang ada ya uang bersama, kuncinya cuma satu KETERBUKAAN. Dan Alhamdulillah nya, tanggal gajian kami berbeda. Gue di akhir bulan, sedangkan istri di tengah bulan, jadi ini kayanya emang ada kompromi dari Tuhan demi terciptanya keharmonisan rumah tangga kami.

Oiya, siapa yang satu team sama gue bahwa contact name istri lo di gawai ya cukup namanya aja tanpa embel-embel Wife, Istriku, My half soul, Satpam komplek, atau Debt collector? Buat gue, menyebut istri dengan nama nya saja, lebih terkesan EGALITER. Hahaha.

*kembali ke laptop*

Aplikasinya kira-kira begini, tagihan kartu kredit yang mostly jatuh di akhir bulan jadi bagian gue yang bayar-bayar. Sedangkan tagihan KPR dan kendaraan di tengah bulan, nah giliran istri yang bayar. Enak gak tuh jadi gue? Hahahahaaha. Jawabanya, kadang enak kadang enggak. Tagihan kartu kredit itu jumlahnya kan gak pasti ya, kadang banyak, kadang ya segitu-segitu aja. Tagihan yang pastinya ya kira-kira bensin (rumah gue jauh, bensin mahal, nasiib tinggal di suburban), listrik, grocery shopping, pulsa, dll. Tapi kalau pas traveling, ada sale, dll, pasti klenger juga. Hahaha. Cara mensiasatinya, kami pos kan masing-masing kartu kredit untuk masing-masing keperluan. Misal, untuk beli bensin & grocery shopping sendiri, traveling & sale, kartu kreditnya sendiri. 

Nah istri gue yang kebagian bayar rumah dan mobil mah tenang karena nominalnya segitu-segitu aja, walaupun gede juga. Jadi kalau punya pasangan yang berpenghasilan lebih besar dari lo ya harus di manfaatin untuk pengeluaran yang pasti (besar). Hahahaha. Kok bisa gaji istri lo lebih gede? Makanya jadi laki oedipus complex kaya gue, jadi istri lo lebih dulu kerja & berpenghasilan duluan disaat lo masih demo di kampus atau kostan pacar. Hahahahaha.

Ini kok gue ketawa mulu yak? Hahaha. 

Jadi paradigma bahwa istri harus di rumah, urus dapur, sumur, dan kasur itu sudah USANG! Asal tetap bisa saling menghormati mah ya harus dinikmati atuh rezeki punya istri cantik, baik, menghargai suami, gak pecicilan, gak doyan ngeluh di sosmed, plus gaji gede. Sungguh nikmat mana lagi yang harus aku dustakan, Gan? Hahahaha.

Oiya, jangan lupa juga untuk investasi mandiri sedini mungkin ya. Kalau warisan mah jangan dihitung sebagai investasi ya, karena hanya membuat kita jadi malas & gak mandiri. Anggap saja itu sebagai JHT tambahan saat pensiun nanti. Selagi masih dalam usia produktif mah ya KERJA, KERJA, KERJA. *gimana gue udah sah jadi Jokower belom?* Hahaha. 

Dan lakukan itu sebelum mengalokasikan uang kita di pos-pos pengeluaran rutin. Investasi bisa macam-macam, yang utama ya yang 2.5% itu, lalu nabung dalam bentuk apapun. Gak cukup beli tanah, ya invest di reksadana. Takut duitnya gak keliatan, ya nabung biasa di bank. INGAT hukum kekekalan gajian bagian II, “inflasi selalu berbanding lurus dengan penghasilan”. Contoh, dulu gaji 10ribu bisa dapet mie instan 10 bungkus, sekarang gaji 25rb dapet mie instannya juga tetep 10 bungkus kan? Walau mungkin dapet gratisan Sosis So Nice, tinggal lep..lep. *krik..krik..krik*

Juga selagi anak lo belom butuh biaya pendidikan, nabung lah sebanyak-banyaknya. Karena biaya pendidikan naiknya secepat motornya Marc Marquez di trek lurus. Kita harus jadi lebih liberal dari sistem yang ada kalau ingin survive di masa depan. Oiya, jangan percaya sama produk bank bernama asuransi pendidikan, believe me jumlahnya gak ngejar. Lagian asuransi mah kan untuk proteksi, bukan proyeksi.

Hal klasik lain adalah soal post keuangan untuk babby sitter, dan PRT. Udahlah mahal, kok kayanya nyari yang bener itu kaya nyari jarum dalam tumpukan jerami ya. Untuk melawan hal tersebut, kami pun memutuskan untuk menitipkan anak ke orang tua, dan gue sebagai Mr.Perfect dalam urusan per-babu-an bersedia memikul pekerjaan bersih-bersih rumah, nyuci (tanpa nyetrika yang merupakan pekerjaan paling membosankan sedunia), dll. 

Sungguh beruntungnya Ny. Anita Frisha memiliki suami macam gue. Hahahaha.

Iya gue paling doyan bersih-bersih, makan di restaurant aja selalu gue rapihin dan elapin mejanya setelah makan, hahaha. Lalu istri sekarang bisa berubah untuk mengeringkan sink setelah cuci piring. Dan, yang paling anyar adalah berhasil merubah paradigma rumah sehat di rumah mertua setelah puluhan tahun either anak atau suami nya gak ada yang berani & berhasil. Walau harus berkorban bikinin kitchen set & beliin mesin cuci baru. Hahahaha.

Point yang bisa di ambil dari post ini adalah kita bisa berhemat banyak, dan gak worry karena ninggal anak sama mertua dibanding baby sitter, juga gue gak perlu berantem sama PRT kalau kerjanya gak bisa lebih bersih & apik daripada gue. Juga pengeluaran ini bisa di alihkan ke orang tua yang pastinya akan lebih banyak mendatangkan rezeki lain untuk kita juga kan. Percayalah, Tuhan tak pernah ingkar janji untuk hal itu. Berikut hukum kekekalan gajian bagian III, “The more you spent for family (esp. parents), the more you will get in return”. Trust me, it works. *quote dari (bukan) pria L-men*

Jika kita bisa mandiri dalam berpenghasilan, dari sekarang dan untuk masa depan, tentu kita bisa memutus mata rantai sandwich generation untuk anak kita nanti. Jadi, mari sama-sama mulai mandiri dalam keuangan untuk jadi The strongest working class hero untuk Indonesia yang kuat.

Ps : Jangan lupa untuk tetap traveling at least once a year ya, ini untuk kesehatan jiwamu juga lho. *teteup*

2 Comments Add yours

  1. Hahahha nyasar di sini.. Lucu amat tulisannya, Dewa. :))))

    1. dewajakiasta says:

      Hahaha..Makasih, Firsta. Nyasar ke tulisan yang lainnya juga boleh lho. *promosi* :))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s