TourDeSumatra. Chapter 1. Aceh & Sabang (Day 1).

Banda Aceeehh…

Persiapan selama 4 bulan akhirnya memulai perjalanannya di provinsi paling barat Indonesia. Provinsi yang pernah menjadi Daerah Operasi Militer, dan diterjang bencana Tsunami besar pada tahun 2004 ini memang memiliki banyak warisan wisata serta budaya yang indah.

Berbicara soal Aceh dan operasi militernya, saya teringat candaan lawas dari dosen saya waktu kuliah di Bandung dahulu. Begini candaan yang beliau lontarkan kepada kami.

Pak Dosen : “Waktu GAM (Gerakan Aceh Merdeka) masih berkuasa di Aceh, kalian tau siapa yang paling berani berteriak lantang soal kemerdekaan Aceh di Bandung?”

Kami : “Tukang Mie Aceh?”

Dosen : “belegug sia..Salah..”

Kami : “…hening…”

Dosen : “Kernet angkot..!!”

Kami : “….Aceh-Merdeka….” :))))

Jadi di Bandung ada jalan bernama Aceh dan Merdeka (ruas jalan Bandung Indah Plaza) yang saling bersimpangan, dan si kernet angkot  tersebut selalu bilang Aceh-Merdeka saat menjajakan trayek angkotnya. Hasan Tiro pun di TKO oleh kernet angkot.

Penerbangan kami menuju Banda Aceh bersama Garuda Indonesia bertanggal 8 Mei 2015. Entah bagaimana perhitungan dosanya, ini mau menuju kota yang dijuluki Serambi Mekkah tapi kok ya melewatkan ibadah sholat Jum’at (penerbangan pukul 12.00). Udah lah ya dosa, ternyata pas keluar dari bandara kami malah dikira bagian dari rombongan anggota band yang dulu pernah terkenal (Element) oleh supir taksi yang akhirnya menjadi local tour guide kami selama di Aceh (Bang Fendi – 085277458897). #RezekiAnakSholeh

Awalnya kami berniat untuk naik bus Damri menuju pusat kota, tapi berhubung kami anak band jadi ya naik taksi dong biar makin sholeh. Taksi di Aceh kebanyakan adalah mobil pribadi, tanpa argo, jadi bisa di nego tarifnya. Mengingat waktu sudah mulai sore, kami meminta Bang Fendi yang mulai sadar kami bukan anak band, untuk menuju Museum Tsunami di Jalan Sultan Iskandar Muda.

Awalnya kami ragu, karena berdasarkan penelusuran di dunia maya disebutkan bahwa museum ini tutup di hari Jum’at. Tapi, memang rezeki anak sholeh, museum itu beroperasi saat kami datang berkunjung. Sayangnya kami hanya punya waktu 30 menit untuk berkeliling sebelum tutup.

Perjalanan dimulai dari Lorong Tsunami, lorong sempit dan gelap dengan visualisasi suara air bah dan gemericik air di kanan kiri membuat pengunjung merasakan berada dalam bencana yang menelan korban jiwa tak kurang dari 240,000 jiwa. Berikutnya adalah ruangan Memorial Hall, ruangan berisi rangkain peristiwa Tsunami dalam bingkai foto digital. Entah mengapa saya merinding saat berada di ruangan ini, ada perasaan haru, dan juga lapar menghinggapi anak band.

Dengan tambahan mineral dari segelas air, kemudian saya menempati ruang bernama “Sumur Doa”. Tempat dimana terpatri nama-nama korban (100 ribu nama) di dinding yang mengerucut menjulang tinggi dengan lafadz Allah terpancar di atasnya, serta di iringin lantunan ayat suci Al-Qur’an. Perjalanan dilanjutkan melewati Lorong Kesedihan sebelum tiba di jembatan untuk menuju lantai 2. Dari atas jembatan ini kita bisa melihat kolam dengan hiasan batu bulat besar-besar, dan pada langit-langitnya terpasanag bendera negara-negara yang memberikan bantuan saat bencana tersebut terjadi.

Aceh Museum
Museum Tsunami Aceh
Baru lima menit berada di lantai 2, saya sudah diminta untuk meninggalkan museum dan disarankan untuk datang lagi esok. Maaf, besok anak band mau manggung di Sabang. Akhirnya kami pun bergegas meninggalkan museum untuk mencumbui matahari terbenam di Pantai Lampuuk.

Perjalanan menuju Pantai Lampuuk ditempuh kurang lebih 30 menit. Begitu sampai, kami diminta untuk memilih saung dan juga ikan yang akan dibakar selama kami menikmati pantai. Kata si Bapak penjual ikan, pilih dulu ikannya sekarang, jadi begitu matahari terbenam, maka terbitlah ikan bakar. Halah.

Entah kami yang kelewat sore (17.00) atau memang lagi-lagi rezeki anak sholeh, pantai Lampuuk sore itu sepi pengunjung, hanya ada beberapa rombongan selain kami disana. Jadi saya pun bebas berjalan di pasir putih pantainya yang halus, melepaskan pandangan pada cekungan indah garis pantainya, juga mengabadikan momen tiap 5 detik tenggelamnya sang surya di kejauhan (harap dimaklumi, anak band memang begitu cara bertuturnya).

Sungguh, sore di Pantai Lampuuk jadi sore terindah dalam perjalanan TourDeSumatra ini.

Aceh Beach
Pantai Lampuuk Yang Mempesona
Benar saja apa yang dikatakan bapak tadi, tak lama sang mentari kembali ke peraduannya, ikan bakar  pun tersaji di saung kami. Selepas shalat Maghrib, kami pun bergegas untuk menuju hotel/dorm (Rumoh PMI hotel) yang saya pesan sebelumnya via booking.com.

Tiba di hotel, menyelesaikan proses check ini, kami pun berpisah dengan Bang Fendi yang akhirnya menyadari bahwa kami hanya pejalan biasa. Masa anak band tinggalnya di dorm, dan milik PMI pula. Hahaha.

PMI Dorm / Rumoh PMI
Anak Band PMI
Bang Fendi akan menjemput kami lagi esok pagi untuk mengantar ke pelabuhan Ulee Lheue. Sesuai itinerary, besok adalah saatnya saya mengunjungi pulau terluar di barat Indonesia, Sabang!!!

Rincian pengeluaran hari ini, sbb :

  1. Airport tax 40K.
  2. Ngopi di Soetta 35K.
  3. Ikan bakar di Lampuuk 100K.
  4. Sewa mobil (Taksi) 250K.
  5. Hotel Rumoh PMI 150K.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s